27.2.15

Puisi Tak Bermakna


Rumahku berdebu sekali.
Berbulan-bulan tak ditengok sama sekali.
Lebih mirip gubuk sepi di tepi kali.
Atau di tengah hutan barangkali.


Senyap halaman rumahku.
Tak ada angin, tak ada kupu-kupu.
Tidak pula tanaman perdu.
Penarik hati selaksa tamu.


Satu dua kartu pos terselip di keset.
Menimbulkan rasa kaget.
Ingin kubalas namun sudah expired.
Membuat hatiku terseret-seret.


Jangan ditanya mengapa.
Karena kuyakin kau tahu jawabnya.
Galau di jiwa, hampa di karya.
Itulah lukisan diriku di alam nyata.


Bogor, di akhir bulan dua
esdebeye