21.4.13

Bolu Kukus Mingkem Berkarakter

Gegara di ajang latbar (latihan bareng) NCC-Bogor ada kawan yang membawa potluck ini, spontan aku berjanji pada Yalda akan membuatkannya juga. Ingatan anakku sangat kuat. Malam berikutnya ia menagih kue Angry Birds.

Pagi hari aku berkunjung ke group Paguyuban Bolu Kukus Mingkem di facebook. Namanya lucu ya :) Group ini dibentuk oleh Benecdita Nanik dan teman-teman yang tertarik mempelajari pembuatan bolu kukus mingkem alias apam dot-dot. Beberapa resep pun beredar. Aku pernah mencoba salah satunya. Tetapi hampir semua hasilnya merekah. Kesimpulanku saat itu, memingkemkan bolkus sama sulitnya dengan upaya memekarkan kue ini. Menggemaskan, deh! 

Agak lama aku menunda niat mencoba resep lain. Kalau tidak karena janji pada Yalda, mungkin aku masih bermalas-malasan mencari resep yang tingkat keberhasilannya lebih tinggi. Alhamdulillah, akhirnya aku bisa memenuhi permintaan anakku.

Dan, inilah resep yang kucoba kemarin. Pemilik resep bernama Yulie Abhistawa. Maturnuwun sanget ya, Mbak Yulie :) 

Bolu Kukus Mingkem (dengan sedikit penambahan redaksi 'cara menuang filling')

Bahan:
2 butir telur
90-100 g gula pasir
1 sdt (5 g) emulsifier
20 ml santan kental
20 ml minyak goreng
100 g terigu protein sedang atau rendah
1/2 sdt vanili
pewarna/pasta
selai untuk filling

Cara membuat:
Kocok telur, gula, dan emulsifier sampai mengembang, berpita, dan ada jejak. Masukkan terigu dan vanili sedikit demi sedikit, bergantian dengan santan dan minyak goreng, sambil dikocok dengan kecepatan sedang. Bagi adonan sesuai warna yang dibutuhkan. Beri pewarna. Tuang adonan ke dalam cupcase hingga setengahnya. Beri selai dengan pola melingkar seperti obat nyamuk. Tutup lagi dengan adonan dasar. Beri warna yang sesuai hingga membentuk karakter yang diinginkan. Kukus selama 15 menit dengan api sedang cenderung kecil.

Aku menggunakan cetakan mini pie yang ukurannya agak besar. Lebih pas dengan cupcase yang aku beli tempo hari. Sebelumnya aku mencoba cetakan kue mangkok (cucing) dan cetakan bolkus yang bolong-bolong itu. Hasilnya kurang sempurna menurutku. Sebetulnya bolkus mingkem ini bisa menggunakan cetakan apa saja asalkan perbedaan diameter atas dan bawahnya cukup jauh. Penampang atas yang cukup lebar akan membuat karakter yang dibuat terlihat unyu-unyu, seperti aku... *eh* 






Aku memotret bolkus mingkem ini dengan kamera HP. Sedang asyik-masyuk dengan Instagram ceritanya. Demi alasan mudah diaplot ke beberapa media, aku berdayakan kamera yang cuma 2 MP itu. Setelah mendapat sedikit sentuhan Instagram, hasilnya gak terlalu jelek, kan? *nyelip di sini deh, hasil jepretan mas EOS*






Keesokan hari aku membuat adonan bolkus mingkem lagi. Kali ini aku sempatkan untuk memotretnya, masih dengan kamera HP. Hasilnya begini setelah di-retouch dengan PhotoScape dan Picasa.









Adonan setelah diberi terigu


Kalau mau diberi filling berupa selai, cara yang kupakai seperti ini. Alhamdulillah, tidak mendelep (Halah, EYD-ne opo yo? Tenggelam?) turun ke dasar adonan. Konon filling yang diberikan tidak boleh banyak-banyak karena massa jenis selai bisa jadi lebih besar daripada massa jenis adonan. Ketika matang, selai blueberry masih terlihat 'mengapung' di tengah kue. Ada yang turun tapi tidak sampai ke cupcase. Bagusnya sih warna selainya kontras dengan warna adonan dasar. Jadi pas dibelah bakal terlihat cantik. Btw, dengan selai sejumlah ini aku merasa isinya kurang 'nendang' nih. Kali lain aku coba memberi filling lebih banyak deh.






Maksud hati ingin membuat karakter Pororo, apa daya energiku sudah terkuras habis untuk urusan ini dan itu *soksibuk* Jadilah terbentuk motif-motif surealis mengarah ke abstrak bebas merdeka.






Pororo memang tercipta tapi cuma satu dan jenong pula. Kuciwa dengan Pororo yang birunya kurang gonjreng, bergantilah aku melukis Doraemon. Birunya sih wokeh tapi kok kumisnya kayak si Jampang yak? Ya sutralah, bikin yang gempeng-gempeng aja. Asal coret, asal moret, dan taraaa... *ngumpet di balik kumis Doraemon*




No comments: